Dari Senin (8/12/2014) sampai Selasa malam (9/12/2014), tempat tinggal Harno serta Sri Mindarti di Jalan Kurnia Makmur, Gang Paling utama, Harapan Baru, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur (Kaltim), tak pernah sepi.
Mulai sejak penemuan bayi di rumahnya, Harno serta Sri senantiasa kehadiran tamu, silih bertukar tiap-tiap jam. Semuanya tamu yang datang memohon untuk mengadopsi bayi wanita yang diketemukan Sri.
" Dari Hari Senin sampai saat ini, tamu tak ada habisnya. Saya sampai terlambat beli perlengkapan si bayi lantaran tak enak meninggalkan tamu-tamu. Dari semuanya tamu yang datang, rata-rata semuanya minta anak bayi ini, " kata Sri, Selasa.
Menurut Sri, tidak hanya orang umum, petinggi negara juga datang memohon anak bayi temuannya itu. Mereka berasumsi, anak bayi yang dibuang itu yaitu anugerah serta rejeki dari yang Mahakuasa.
" Semuanya minta adopsi, dari yang tetangga, orang yg tidak saya kenal, bahkan juga ada petinggi yang datang. Mereka katakan, bayi ini rejeki, " katanya.
Walau banyak yang tawarkan layanan untuk mengadopsi bayi itu, Sri serta Harno tetaplah bersikukuh bakal merawat bayi tersebut. Sesuai sama surat wasiat ke-2 orang-tua si bayi, Sri mesti merawatnya sampai satu waktu kelak mereka datang untuk mengambilnya.
" Semoga dengan saya mendapatkan bayi ini membawa barokah untuk keluarga serta sekitar lingkungan sini. Saya ingin rawat bayi ini sendiri. Saya telah belikan baju, komplit, serta telah jadi anak saya. Agar saya besarkan, hingga kelak, " katanya.
Bila satu waktu ke-2 orangtua si bayi datang, Sri berjanji bakal ikhlas mengembalikannya. Asal, kata dia, ada pembuktian dari orang-tua si bayi berbentuk tes DNA serta pertanggungjawaban di kepolisian.
" Saya ikhlas bila kelak dia diambil lagi sama orangtuanya. Namun, mesti ada tes DNA yang menunjukkan itu anaknya serta mereka harus juga mempertanggungjawabkan perbuatannya di kepolisian, " tuturnya.
Sesungguhnya, Sri serta Harno telah memiliki tiga anak yang telah besar, dua salah satunya berjenis kelamin wanita, sesaat anak ketiga berjenis kelamin lelaki. Lantaran terasa telah komplit, Sri memutuskan untuk berhenti mempunyai anak.
" Saya setuju dengan suami, bila telah bisa anak lelaki, saya stop melahirkan. Namun, berhubung ada bayi yang diberi, saya terima serta bersukur. Kami bersedia mengangkat bayi ini jadi anak kami, " katanya.
Rasa sayang Harno serta Sri pada si bayi telah nampak mulai sejak pertama kalinya mereka menemukannya. Tangis lantaran haus itu bikin keduanya iba. Seperti kejatuhan durian roboh, Sri yakini bila bayi itu kelak membawa barokah untuk dia serta keluarganya.
" Saat kami dapatkan, bayi itu nangis selalu. Disamping itu masihlah subuh, tidak ada toko yang buka. Saya telephone rekan yang miliki toko serta memaksa beli susu untuk bayi. Karena sangat hausnya, susu formula segera habis satu botol kecil, " katanya.
Hingga sekarang ini, bayi itu belum meiliki nama. " Rencananya hari Minggu kelak ada selamatan untuk bayi, sekalian memastikan nama yang pas untuknya, " kata Sri.
Penulis : Kontributor Samarinda, Gusti Nara
Editor : Farid Assifa
